PITI, Tempat Bernaungnya Muslim Tionghoa di Sumbar

PITI, Tempat Bernaungnya Muslim Tionghoa di Sumbar

Berita Sumbar

Warga Tionghoa adalah kelompok minoritas di Sumatera Barat. Tapi tahukah Anda, di etnis Tionghoa ada kelompok minoritas lagi. Namanya adalah Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Di Sumbar jumlah anggotanya sekitar 200 orang.

Tidak banyak yang mengetahui sepak terjang persatuan ini, padahal PITI aktif sejak 2013 silam. Kegiatannya lebih banyak melakukan pembinaan keagamaan dan kegiatan kegiatan sosial.

“PITI adalah organisasi sosial yang aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti pengajian rutin, belajar Alquran dan kegiatan sosial lainnya,” Jelas Ketua PITI Sumbar, Muslim M. Nur.

Hal ini diungkapkan dalam Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peran strategis PITI dalam kegiatan keagamaan dan sosial.

PITI dalam perjalanannya, lanjut Buya Muslim, bukan tanpa kesulitan, asimilasi dengan keislaman cukup sulit, apalagi warga Tionghoa dari kecil jarang diberikan pondasi agama.

“Mayoritas Warga Tionghoa yang memeluk Islam karena alasan perkawinan, sehingga terkadang untuk mengajak dan mempelajari Islam cukup sulit, sebab belum ada kesadaran mendalam,” kata Muslim.

“Tapi kami tetap berbuat dan optimis, target kami bagaimana menghasilkan ulama Tionghoa dari Sumatera Barat, ini kita ajarkan mulai dari anak anak, tapi banyak dukanya,” papar Hari Wijaya, salah seorang anggota PITI.

Sementara itu, LKAAM Sumbar yang diwakili M. Natsir Dt Sampono Batuah, menilai masyarakat Minangkabau  terbuka dengan warga Tionghoa yang memeluk agama Islam.

“Banyak anak kemenakan kami yang dari warga Tionghoa memeluk Islam dan melekat dengan salah satu suku di Minangkabau. Masyarakat Minang menerima itu, dan dianggap sudah menjadi bagian dari masyarakat. Minangkabau ini terkenal dengan sifat egaliternya,” kata M. Natsir.

Peneliti dari IAIN Bukittinggi, Nunu Burhanuddin, menjelaskan penelitian ini dilakukan untuk melihat sejauh mana PITI berperan dalam keagamaan dan sosial di masyarakat.

“Saya mencontohkan misalnya soal pemakaman. Islam jelas menegaskan orang yang meninggal hatus dikuburkan secara Islam. Tapi Tionghoa tidak, harus dikremasi. Lalu bagaimana dengan warga Tionghoa yang memeluk islam? Ini yang akan kita lihat,” jelasnya.

Penelitian ini akan dilakukan di 3 Kota, yaitu Padang, Jakarta dan Pontianak. “Dengan penelitian ini kita ingin melihat bagaimana PITI beraktivitas dan menjadi jembatan kemasyarakatan,” lanjutnya.

Pemerintah Provinsi melalui Kesbangpol mengapresiasi penelitian ini diadakan. Karena selama ini PITI belum dikenal luas oleh masyarakat.

“Ke depan PITI harus kita rangkul, karena berperan strategis dalam mengayomi masyarakat, khususnya warga Tionghoa yang memeluk Islam. Pemerintah akan menfasilitasi agar PITI tetap eksis,” sebut Kepala Kespangpol Sumbar, Nazwir.

Selain dihadiri oleh perwakilan PITI, Pemerintah dan LKAAM, FGD ini juga diikuti oleh akademisi, organisasi pemuda dan wartawan. (aci)

Sumber : hariansinggalang.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *