Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia 4

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia

Wisata & Kuliner

Ikon kota Bukittinggi yang satu ini sangat populer di masyarakat. Merupakan sebuah menara jam yang di bangun di pusat kota Bukittinggi, Jam Gadang sejak berdiri sudah menjadi jantung kota. Di pagi hingga sore hari, menengadah melihat puncak Jam Gadang akan menampilkan kemegahan bangunan dengan background langit megah. Sedang di malam hari, nuansa romantis nan eksotis akan mempesona pengunjung. Di balik itu semua, ada beberapa hal terkait bangunan berumur sekitar 180 tahunan ini yang masih menjadi teka-teki sampai saat ini.

Dari sekian banyak teka-teki, yang paling populer di masyarakat tentang angka “4” yang selalu dikaitkan. Misalnya, mengapa menara ini memiliki 4 buah jam di tiap sisinya. Selain itu, mengapa angka 4 pada bilangan romawi ditulis IIII, bukan IV seperti pada umumnya. Tak hanya soal teka-teki, ada beberapa fakta menarik lain dari sang kembaran Big Ben ini.

Penulisan Angka 4 Yang Menimbulkan Pertanyaan

Hal menarik yang tidak putus-putusnya ditanyakan pengunjung Jam Gadang adalah mengapa angka 4 ditulis “IIII”, bukan “IV” seperti seharusnya angka romawi. Apakah ada kesalahan penulisan? Menurut cerita masyarakat sekitar, konon dalam proses pembangunan Jam Gadang, ada empat orang pekerja (tukang batu) yang meninggal karena kecelakaan kerja. Untuk mengenang hal tersebut, maka jam yang dipesan di Rotterdam itu sengaja ditulis angka I berjajar 4 (IIII).

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia

Selain cerita di atas, ada juga yang menyatakan bahwa angka IV diartikan sebagai “I Victory” yang artinya aku menang. Belanda yang juga andil dalam pembuatan bangunan setinggi 26 meter itu menghindari arti “aku menang” karena dikhawatirkan memicu pemberontakan untuk menentang penjajah. Karenanya, pihak Belanda yang mendatangkan jam dari negerinya memesan angka 4 ditulis sebagai IIII.

Berbeda dari dua pendapat sebelumnya, beberapa ahli menyatakan bahwa angka 4 dalam huruf romawi awalnya memang tertulis IIII. Hal ini terjadi jauh sebelum pemerintahan Louis XIV. Dan penulisan angka empat dengan “IV” dikatakan sebagai perubahan penulisan angka romawi yang awalnya IIII. Sampai saat ini, pendapat mana yang paling benar masih menjadi teka-teki.

Disebut Kembaran Big Ben Meski Amat Berbeda

Banyak yang tidak tahu mengapa Jam Gadang selalu disebut kembaran Big Ben. Meski memiliki bentuk yang serupa (segiempat), namun menara Big Ben di London dan Jam Gadang jelas berbeda. Jam Gadang dibuat dengan gaya modern dengan menara berbentuk rumah adat Minangkabau setinggi 26 meter. Sedangkan Big Ben didesain dengan gaya Gothik Victoria yang tingginya dengan puncak menara runcing dan tinggi mencapai 96 meter.

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia 1

Ternyata yang membuat ikon Kota Bukittinggi dan Big Ben London kembar adalah mesin yang ada di dalam menara. Dua mesin jam yang dibuat oleh Vortmann Relinghausen Jerman ini serupa dan dibuat khusus untuk menara jam Big Ben dan Jam Gadang. Mesin jam edisi terbatas itu, hanya ada dua unit di dunia. Inilah yang membuat Big Ben dan Jam Gadang disebut kembar.

Menara Jam Gadang Mengalami Perubahan

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia 2

Menara Jam Gadang telah mengalami tiga kali perubahan. Saat pertama didirikan, menara berbentuk bulang dengan terdapat patung ayam jantan menghadap ke arah timur di atasnya. Pada masa penjajahan Jepang, menara diubah menjadi bentuk pagoda. Dan terakhir saat Indonesia merdeka, menara diubah menjadi bentuk gonjong (atap rumah adat Minangkabau).

Awal Mula Pembangunan Jam Gadang

Fakta Unik Jam Gadang Bukittinggi, Sang Kembaran Big Ben Versi Indonesia 3

Jam Gadang dibangun sebagai hadiah Ratu Belanda kepada Rook Maker, seorang sekretaris di Kota Bukittinggi. Didesain oleh arsitektur bernama Yazid Abidin Rajo Mangkuto, pembangunan selesai pada tahun 1926. Tempat yang digunakan sebagai titik 0 Kota Bukittinggi itu dalam pembangunannya menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden. Karena mahalnya biaya pembangunan, maka banyak orang tertarik melihat dan bangunan ini menjadi populer di jaman itu dan berlanjut hingga kini.

Keindahan dan kemegahan Jam Gadang memang mempunyai pesona tersendiri. Meski beberapa teka-teki belum terpecahkan, namun justru hal ini menjadi daya pikat yang semakin membuat Jam Gadang populer.

Sumber : boombastis.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *