Tips Sehat Selama Menjalankan Ibadah Haji, Ini Pesan Dokter

Tips Sehat Selama Menjalankan Ibadah Haji, Ini Pesan Dokter

Tips

MINGGUini secara bertahap para jamaah haji dari Indonesia sudah mulai diterbangkan ke Tanah Suci. Perbedaan cuaca menjadi masalah pertama yang bakal dialami.

Perlu Anda ketahui, di Makkah maupun di Madinah, suhu udara mencapai 40 derajat selsius. Suhu ini dua kali lipat dibandingkan suhu normal Indonesia. Kondisi ini yang kemudian membuat masalah dehidrasi sangat mungkin terjadi.

Jika menengok sedikit ke aktivitas yang bakal dilakukan para jamaah, mereka akan ke Madinah dan sebagian ke Jeddah dan selanjutnya akan menuju Madinah terlebih dahulu untuk ziarah ke Masjid Nabawi. Selama di Madinah jamaah haji akan melaksanakan Salat Arbain (Salat berjamaah 40 waktu) di Masjid Nabawi.

Umumnya para jamaah berusaha untuk dapat melaksanakan Salat Arbain ini dengan lengkap. Hal yang harus diperhatikan adalah udara panas dan aktivitas di ruang terbuka yang sebaiknya dihindari.

Dijelaskan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dr Ari Fahrial Syam, SpPD, selain faktor cuaca, keadaan lain yang dapat memperburuk kesehatan para jamaah adalah kelelahan akibat perjalanan yang lama dan melelahkan. Selain itu, proses naik dan turun kendaraaan dari bandara menuju penginapan juga akan menyebabkan kelelahan tersebut makin menjadi.

 

Belum lagi proses pembagian kamar yang kadang kala berlarut-larut yang pada akhirnya keadaan ini akan membuat kelelahan para jamaah semakin menjadi.

Oleh karena itu hal yang perlu dicermati para jamaah dan para pimpinan kelompok adalah tersedianya waktu istirahat yang cukup bagi para jamaah.

Rasa bersyukur dan ingin segera melihat Masjid Nabawi serta ziarah ke makam Nabi Muhammad SAW kadang mengalahkan rasa lelah yang ada selama perjalanan dan sampai di penginapan. Ini yang kemudian membuat jamaah mengabaikan kesehatan pribadinya.

“Bagaimana pun secara keseluruhan tubuh kita perlu istirahat walau kadang kala semangat yang ada dapat mengalahkan kelelahan tersebut. Minum yang cukup untuk mencegah para jamaah jatuh ke dalam dehidrasi atau kekurangan cairan yang akan memperburuk kesehatan akibat udara panas tersebut,” ungkap dr. Ari melalui pesan singkat yang diterima Okezone Rabu (18/7/2018).

Dokter Ari melanjutkan, selama di Masjid usahakan untuk tetap minum. Jangan khawatir, tempat-tempat penampungan minum yang berisi air zam-zam selalu tersedia di dalam dan di sekitar Masjid Nabawi.

Lalu, hal lain yang harus diperhatikan adalah hindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi atau minuman bersoda karena dengan mengonsumsi minuman tersebut akan memperberat dehidrasi.

“Jika buang air kecil kita menjadi lebih keruh hal ini merupakan tanda bahwa kita harus meningkatkan untuk mengonsumsi air,” tambahnya.

Kemudian, makan merupakan hal penting dan mesti diperhatikan. Dr. Ari menyarankan untuk buang jauh-jauh perasaan tidak suka dengan rasa makanan ketika di Tanah Suci. “Jangan pernah Anda memikirkan bagaimana rasa makanan itu,” tegasnya.

Lagipula, tidak sulit mencari rumah makan Indonesia dengan selera Indonesia di sekitar Masjid Nabawi atau penginapan. Selain itu, makanan yang disediakan untuk jamaah Indonesia biasanya telah disesuaikan dengan rasa lidah jamaah Indonesia.

“Yang terpenting, sekali lagi jangan sampai tidak ada asupan makanan, baik pada pagi hari, siang hari, atau malam hari. Aktivitas ibadah termasuk pergi dan pulang dari penginapan dan ke mesjid akan menghabiskan energi kita. Oleh karena itu harus diimbangi makan yang cukup,” ungkap Dr. Ari.

 

Dia menegaskan, apabila asupan makan Anda tidak baik, tentunya secara umum hal ini juga akan memengaruhi daya tahan tubuh Anda. Tidak hanya asal makan sebetulnya. Ada hal lain yang harus diperhatikan di sini. Usahakan untuk tetap mengonsumsi makanan yang bersih dan relatif mmasih segar.

“Ini yang kemudian menjadi masalah, ketika Anda suka menyimpan makanan. Bukannya baik, malah menjadi masalah,” tegas dr Ari.

Perlu diperhatikan, biasanya pemberian makanan yang resmi dari katering penyelenggara ibadah haji disertai keterangan berapa jam makanan tersebut dapat dikonsumsi dan kapan tidak dapat dikonsumsi lagi.

Selanjutnya, kepada para jamaah haji dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dan segera menghubungi petugas kesehatan yang berada di kelompok atau kloter apabila timbul masalah kesehatan.

Hal ini penting agar gangguan kesehatan yang terjadi dapat segera diatasi dan tidak berlarut. Perlu diingat juga, karena kontak 1 jamaah dengan jamaah lain cukup dekat, maka jika ada salah satu jamaah yang mengalami flu berupa batuk pilek yang mana ini sangat mudah menularkan kepada yang lain, disarankan untuk mengenakan masker.

“Sikap kekeluargaan juga akan timbul di momen ini. Sebab, ketika Anda tahu ada yang sakit, maka tanpa aba-aba Anda pasti akan menghubungi petugas kesehatan dan menolong jamaah yang sakit itu,” kata dr. Ari.

Dia melanjutkan, dengan memerhatikan dan mengantisipasi adanya udara panas, mudah-mudahan para jamaah khususnya kloter-kloter pertama yang langsung menuju kota Madinah dapat tetap melaksanakan Salat Arbain dengan baik.

Sekali lagi, perlu diingat tujuan dari rangkaian perjalanan haji itu sendiri adalah puncak ibadah Haji yaitu melaksanakan rukun dan wajib haji di Kota Mekah termasuk wukuf di Arafah.

“Oleh karena itu, para jamaah harus tetap menjaga kesehatan sampai puncak ibadah haji di Padang Arafah dan tentunya untuk persiapan kembali ke Tanah Air,” tambahnya.

Muhammad Sukardi, Jurnalis

Sumber : lifestyle.okezone.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *